the story of a lady and a young woman

Photo Salon

Filed under: Emak-General | Tags: | July 24th, 2006
Post

Bukan kita aja loh yang bisa ke salon, photo juga bisa ke salon untuk di-touch up atau diberi make-up, contohnya seperti photo di atas. Karena terburu-buru dan faktor kesalahan dalam menyetel segala features yang ada di kamera hasil akhirnya gelap dan tidak bisa dinikmati lagi.

Sayang? Banget!

Jalan keluarnya adalah mengirim photo di atas ke ‘salon’ di-touch up abis-abis-an di program photoshop dan jadilah photo di atas agak terselamatkan. Meskipun agak jelimet untuk nyalon si photo di photoshop, karena kemampuan yang minim dalam mengutak-utik program satu ini yang begitu luas – hasil akhirnya hanya bisa seperti tampak di atas. Kemampuan yang ada juga didapat dari hasil ngacak-ngacak rumahnya Pak Google.

Istilah photo salon datang dari seorang teman yang sudah pakar dalam dunia photography dan juga sudah pernah menggelar pameran photo di tanah air. Semakin hari semakin terngiang-ngiang di telinga karena kalau ditelaah kembali rasanya akan lebih puas kalau hasil photo yang kita dapat langsung bisa dinikmati tanpa harus mengirim ke salon. Itulah gunanya ketika memutuskan embeli jenis kamera yang satu ini.

Mmmh……

Sepertinya kemkampuan untuk menguasai camera harus dipoles dan dengan sejalannya waktu tentunya akan semakin berkurang frekuensi mengirim photo ke salon.

Kalau sekarang semakin banyak konsumen yang beralih ke camera digital - ada juga sebagian yang berkamera canggih tapi menggunakan jenis film Konvensional. Hari Sabtu kemarin di tengah photo hunting di bawah hangatnya matahari sore, berkesempatan bertemu dengan seorang turis dari Denmark yang mempunyai kamera canggih tetapi memakai film roll dan juga berhasil diwawancara sedikit mengenai alasan memakai sarana film roll untuk mengabadikan hasil perjalanannya selama di Myanmar. Hasil interview : Lebih berhati-hati dalam mengabadikan photo meskipun film roll murah, tetapi jadi lebih fokus dalam merekam gambar, dimulai dari penguasaan kamera dan hasil akhirnya yang tidak bisa dikirim ke salon tentunya (kecuali setelah di-scan). Jadi harus benar-benar hati-hati dalam mengabadikan photo untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Sementara kamera digital canggih dengan CF Card berkapasitas 1 GB misalnya, jari telunjuk ini rasanya mempunyai kecepatan tinggi untuk menekan tombol – cekrek! cekrek! cekrek!, kurang puas tinggal hapus, ulangi kembali dan masih kurang bagus, tinggal dikirim ke salon he..he..he..

Sekarang, tergantung selera masing-masing – mau kirim photonya ke ‘salon‘ atau mau yang apa adanya saja.

The decision is yours!

4 Responses

  • flona | July 25th, 2006 @ 10:26 | Reply

    weleh Mbak, biar bagaimanapun potonya teteup keren koq….

  • yanti | July 26th, 2006 @ 15:50 | Reply

    iya teh… aku selalu suka foto2 Teh Syl. estetiknya bagus, objeknya juga menarik..

  • diny | July 27th, 2006 @ 20:35 | Reply

    first of all, i’m a big fan of your shots *salam kenal* mau polesan salon atau aseli, foto syl ‘berbicara’. boleh dong, tulis sedikit dua dikit menyoal basic photoshop.

  • diny | July 27th, 2006 @ 20:42 | Reply

    salam kenal syl. i’m a fan of your shots. mau aseli atau polesan, gak ngaruh. boleh dong bikin tulisan sedikit dua dikit menyoal photoshop dasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>