the story of a lady and a young woman

Apakah Moms Kerap Menunda Pekerjaan ?

Filed under: We are Mommies | Tags: | February 3rd, 2007
Post

Published at : We Are Mommies Homepage
Date : 17 January 2007

Oh… rasanya sulit untuk dipercaya, saya telah menundanya selama itu !

Apakah ungkapan di atas sering terjadi di keseharian para Moms ?

Mungkin hal yang telah ditunda menyangkut hal-hal seperti deadlines di kantor yang telah disanggupi sebelumnya, proposal yang mestinya harus selesai tepat waktu, rencana menata ulang semua lemari pakaian di rumah, mencari informasi dari agen perjalanan untuk acara liburan, rencana mengatur semua bahan kering di dapur dengan masing-masing mewadahinya secara rapi dan berlabel, merubah kamar kosong menjadi sebuah ruang kerja cantik di rumah dan masih banyak lagi rencana-rencana lainnya yang ada di angan.

Tanpa disadari hal-hal tersebut di atas tertunda, dan akan merasa takjub dengan lamanya hal tersebut ditunda ketika sadar. Sementara itu hal-hal yang tidak dapat ditunda lagi terpaksa segera dikerjakan, pontang-panting agar dapat terselesaikan dengan tenggang waktu seadanya yang dimana hasil akhirnya tentu tidak akan maksimal dan menjadikan kita sebagai insan yang tidak puas akan hasil kerja diri sendiri atau dapat dikatakan gagal dalam menjalankan tugas sebagaimana mestinya.

Mungkin ada beberapa pekerjaan tertunda di atas yang belum mengecewakan orang-orang di sekitar kita tetapi hal ini sudah menunjukkan dengan jelas bahwa kebiasaan menunda sudah mulai ada di dalam diri kita.

Kata ‘menunda’ mungkin terdengar sepele. “Ah, besok saja diselesaikannya!”. Dan kata besok pun berganti menjadi esok lusa, lalu berubah menjadi pekan depan, memanjang lagi menjadi bulan depan dan tanpa kita sadari bahkan tertunda hingga bertahun-tahun.

Menunda adalah adalah sebuah proses mengesampingkan suatu hal yang mestinya dapat diselesaikan pada waktu tertentu dengan alasan yang berbeda-beda. Menunda terdengar bukanlah suatu hal yang serius dan sekali lagi, sepele. Tetapi jika dibiarkan hal ini akan menjadi sebuah rutinitas dan kebiasaan buruk dan jika telah larut secara terus menerus kebiasaan ini menurut para ahli psikologis mengkategorikannya sebagai mental disorder.

Menurut William Knaus, seorang psikolog di Longmeadow Massachusetts yang mendalami kebiasaan menunda untuk menolong orang-orang dengan kebiasaan buruk ini mengatakan bahwa sikap menunda ini bukannya tidak disadari oleh para pengindapnya tetapi karena telah terbiasa, tentunya tidak menyadari akan kebiasaan buruk tersebut.

Beliau memberi banyak contoh akan kebiasaan buruk menunda lainnya seperti, menunda berminggu-minggu untuk membayar tagihan kartu kredit hasilnya tentu kita semua telah ketahui, mengirim pakaian sutera untuk dicuci secara khusus ke binatu langganan – sebuah pekerjaan sepele tetapi tetap tidak dapat kita lakukan. Pakaian sutera itu pun teronggok berbulan-bulan di kursi belakang mobil, dan masih banyak hal lainnya yang terkadang terdengar sangat sederhana dan ditunda.

Mengapa ditunda ? Nah, pertanyaan ini tentu kerap muncul. Alasan seseorang untuk menunda pada dasarnya melibatkan beberapa faktor yang dihindari seperti rasa ketidak nyamanan, rasa bosan, rasa kecewa, rasa terberati jika melakukan hal tersebut, rasa kebingungan dan rasa malu. Salah satu contoh : mana yang akan Mom pilih ? berselancar di dunia maya membaca topik menarik atau menata ulang kamar, lemari pakaian dan mainan anak-anak yang super berantakan ? Beberapa contoh lainnya yang cukup kronis adalah menunda untuk mengisi bensin kendaraan keesokan harinya yang kerap membuat masalah dengan kehabisan bensin di tengah perjalanan di jalan raya bebas hambatan, atau saluran telepon yang diputus oleh pihak Telkom karena selalu menunda pembayaran. Alasan menunda hal-hal tersebut beraneka ragam.

Jika tanda-tanda kebiasaan kerap menunda sudah mulai terlihat ada dalam diri para Moms, bagaimana cara menghilangkannya ? Berikut saran-saran dari para ahli agar dapat ditanamkan :

Fokus
Fokuskan pikiran pada suatu kegiatan yang harus diselesaikan dan bukan pada faktor ketidaknyamanan yang akan dilalui mau pun hasil dari kegiatan itu sendiri.

Kalahkan Rasa Malu
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa ada koneksi antara mereka, sang penunda dengan rasa malu. Para peneliti menyatakan, mereka yang kerap menunda suatu kegiatan sebenarnya mereka sudah mengetahui akan timbulnya kemungkinan rasa malu dari kegiatan yang mereka harus kerjakan. Jika akan berhadapan dengan kegiatan atau pun tugas yang kurang mengenakkan, jalan keluarnya adalah fokuskan pikiran pada kegiatan itu secara seksama dan bukan pada perasaan kita (rasa malu dll), begitu menurut June Tangney, seorang Profesor ilmu Psikologi dari Universitas Goerge Mason di Amerika.

Merinci Langkah Yang Harus Dikerjakan
Bagi para penunda jika menghadapi hal-hal yang harus diselesaikan tetapi terkesan membebani, mereka cenderung menunda hal-hal tersebut. Hal ini dikarenakan akan memberikan rasa kekhawatiran dan kebingungan pada diri mereka. Jalan keluarnya adalah merinci setiap tugas yang dikerjakan selangkah demi selangkah agar jalan pikiran tetap fokus dan tugas pun dapat terselesaikan.

Hadiahi Diri Sendiri
Misalnya saja Moms telah berhasil menyelesaikan pekerjaan yang sangat menjemukan sekali seperti, menyeterika pakaian yang telah ditumpuk selama 2 pekan. Hadiahilah diri Moms dengan sesuatu yang merupakan kegemaran diri kita, misalnya pergi creambath ke salon langganan.

Menunda yang Produktif
Jika memang tidak ada pilihan lagi dan tetap harus menunda, mungkin dapat mencoba untuk menunda beberapa saat tetapi tetap produktif. Misalnya saja, jadwal deadline untuk memasukkan tulisan untuk We Are Mommies sudah dekat, tetapi anak dan suami minta untuk dibuatkan kue kegemaran mereka dan kamar mandi menunggu untuk dibersihkan. Buatkanlah kue kegemaran keluarga terlebih dahulu, sambil memikirkan topik tulisan yang akan ditulis. Setelah kue selesai, coba rinci poin-poin yang akan menjadi bahan tulisan yang dipikiran ketika membuat kue tadi – hal ini mempercepat proses penulisan. Jika telah selesai, kamar mandi pun dapat segera dibersihkan.

(Sylvie Gill)

Sumber :
Artikel – Do you put things off ? by Hagar Scher
Image dari Parent-Institute.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>